Selalu seperti ini...

Lamat-lamat ritme circadian dalam tubuhku membangunkanku dari mimpi. Kubuka mata. Kuhirup napas panjang.
Sinar matahari yang keemasan menembus celah-celah tirai jendela di samping tempat tidurku. Sudah pagi.
Kulirik bantal di sebelahku. Kosong. Seperti biasa. Sekali lagi, kutarik napas panjang.
Aku bangkit, lalu berjalan menuju ke jendela. Kusibak tirai, membiarkan sinar matahari menyengat mataku. Di ufuk timur sana, matahari baru saja menampakkan diri, menjanjikan aroma kesegaran untuk satu hari yang baru.
Kupeluk kedua lenganku. Meresapi sendiri rasa kagum yang membanjiri benak kecilku, meluap tanpa mampu menemukan tempat bermuara.

Ya, karena engkau tak pernah ada di sini bersamaku…
Selalu saja seperti ini.
*

Kupandangi lekat-lekat dua gelas minuman yang tersaji di depanku. Satunya cappuccino, yang lainnya es lemon.
Tiga jam yang lalu, proposal proyekku diterima. Itu berarti aku juga berhak memperoleh promosi. Untuk itu, rekan-rekanku membuatkan sebuah pesta kecil untukku di kantin kantor.
Tapi acara itu belum selesai ketika aku beranjak pergi. Aku ingin merayakannya bersama seseorang.
Dan di sinilah aku sekarang. Di café yang tiap jamnya kian bertambah sepi.
Aku tertawa pahit. Kutinggalkan kehangatan teman-temanku untuk menyongsong dinginnya rasa sepi.
Kuteguk habis kopi yang telah mendingin itu.
Sementara gelas es lemon itu selalu masih utuh dan penuh berisi.

Selalu saja seperti ini.
*

Kunyalakan lampu kamarku. Pemandangan yang sama membentang di hadapanku. Semuanya terasa kosong dan hambar.
Kuambil sekaleng coke dingin dari dalam kulkas. Perlahan aku berjalan ke arah jendela.
Malam terlihat gemerlapan. Tetapi cahayanya tak akan pernah mencapai kegelapan di hatiku. Gelap itu akan terus teronggok dan terlupakan. Gelap yang selamanya akan tetap menjadi gulita.
Mengapa mesti selalu seperti ini?
*
Mimpi buruk yang menggigit kesadaranku membangunkanku dari tidur.
Aku terengah, mencoba memasukkan sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-paru. Jantungku seolah terus berpacu dengan waktu.
Kuseka peluh dingin yang membasahi keningku, lalu kuraih botol minum di samping ranjang.
Baru jam tiga pagi. Dan seperti biasa, bantal di sampingku masih rapi. Secuil perasaan takut meresap di hatiku, mengurung seluruh keberanianku.

Aku membutuhkanmu….

Kupeluk kedua lututku. Hanya kesunyian yang bergema memenuhi seluruh ruang kosong.
Selalu seperti ini.
*

Dari jendela kacaku, kutatap ia memasuki sedan putihnya dan melaju pergi.
Kuhela napas panjang.
Masih adakah arti semua yang kujalani saat ini? Dia tak pernah ada saat aku bahagia. Tak pernah hadir saat aku sedih. Dan tak pernah berada di sampingku, di saat aku paling membutuhkannya…

Aku lelah hidup dalam bayang-bayang seperti ini. Aku tak ingin hanya menjadi pelarian belaka…
Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tak menginginkan perpisahan. Aku mencintainya, dan aku tak memerlukan dia juga mencintaiku.

Kugigit bibirku, berusaha menahan rasa getir yang menggerogoti perasaan sentimental di dalam hatiku.
Seperti biasa, aku gagal melakukannya.
*

Aku diam menatap kamarku.
Kamar yang pernah terasa demikian besar dan penuh, sekarang menjadi demikian lengang dan kecil.
Kuhela napas panjang. Baru setengah jam yang lalu, kuputuskan untuk mengakhiri semua kegetiran ini.
Rasanya demikian tidak adil. Sesuatu yang kubangun bertahun-tahun kini lenyap hanya dalam hitungan detik.
Dia telah berlalu dari kehidupanku. Seharusnya aku gembira dan bahagia. Tetapi hatiku malah dipenuhi rasa kangen. Kangen pada hari-hari yang pernah kumiliki dengannya…

Kutatap langit melalui jendela kaca. Kudapati lembar terakhir daun kuning pohon maple di halaman rumah gugur tertiup angin.
Kini aku mengerti. Pohon besar itu tidak pernah menolak daun-daunnya. Daun-daunnyalah yang memilih luruh ke bumi.. agar daun-daun yang baru dapat kembali bermula.
Aku harus segera membiasakan diri lagi. Karena semua tak akan pernah sama lagi…
*END

Di Pojok Cafe

Kuteguk kopi di cangkirku yang ketiga. Kali ini sampai habis. Dan tanganku kembali terangkat ke atas. Tak lama, cangkir keempatku pun datang, masih mengepulkan asap.
Kunyalakan pemantikku, untuk membakar tembakau rokok. Batang rokok yang kelima. Kuembuskan asapnya ke udara, yang segera berdifusi dan lenyap.
Aku sedang menunggu seseorang, dan menunggu selalu membuatku senewen. Spontan kulirik jam di dinding.

Sepuluh menit lagi…

Lalu gadis itu melangkah masuk. Pelan-pelan, selangkah demi selangkah. Tapi bagiku, saat itu pula seluruh momenku serasa terhenti. . . . .
. . . aku lupa pada diriku sendiri. Aku lupa tarikan napasku. Lupa kedipan mataku. Lupa debaran jantungku.
Ia akan duduk di tempat yang sama. Dan aku akan mengamatinya memberi seulas senyum yang sama pada bartender. Kemudian bibirnya bergerak, memesan segelas es lemon. Setelahnya, ia pun mulai mengamati tamu-tamu lain.
Sesekali ia tersenyum. Dan aku juga akan tersenyum.
Di kali lain, ia bersedih. Dan aku juga akan bersedih.
Ia seperti menularkan emosinya ke atmosfer café yang kecil ini. Dan hanya aku yang tak punya immunitas. Karenanya, hanya aku yang tertular.

But it’s okay…

Begitulah ritual itu melebur dalam rutinitas harianku. Aku, yang berada di pojok gelap kecilku, mungkin tak pernah memiliki arti apa-apa baginya. Ia tak pernah tahu aku eksis di dunia, mengamatinya, dan bahkan menunggu setiap kehadirannya di café ini.
Tapi sekali lagi,
it’s okay. Karena ia tak perlu tahu.

Sejam lebih ia di sana. Lalu ia bangkit, melangkah perlahan keluar dari café itu.
Rambut panjangnya yang tergerai begitu saja melambai-lambai di kornea mataku. Punggungnya berlalu ditelan oleh udara luar.

Kumatikan rokokku. Kuhampiri kursi tempat ia duduk tadi.
Aku mengambil posisi tepat di sampingnya. Memandangi segelas es lemon miliknya, yang seperti biasa, masih penuh dan utuh. Enigma yang tak kupahami hingga sekarang.
*end

It's a talk to myself

Aku ingin, mendekapmu dalam belaian waktu
yang berlalu diterpa detikan jam
ngilu di sudut jantungku


aku ingin, mendekapmu dalam lalu usia
menatap binar matamu kala bangun pagi
berdebar dan berdetak pelan
d a n m e s r a


aku ingin, mendekapmu di sisiku
menjadi bagian dari jiwa yang terlengkapi
Menjejak nyata dalam segenap rasa


Aku ingin, mendekapmu
sekali saja....


Biarpun seluruh mimpi serasa tak tergenggam
Namun nyata!
----------------------------------------------------------------------------------


aku tahu aku mencintaimu..


menerabas semak belukar dan belati tajam
menikam hatiku yang rapuh dengan hujamannya


Biar!
Biar air mataku yang membasuh lukaku yang berdarah
meneteskan segenap cerita tentang rasaku padamu




Aku hanya tahu aku mencintaimu
meski itu berarti tersayat beling
terhuyung dalam maya tak tergenggam,
tapi tak'kan pernah tersungkur


karena aku hanya tahu..
....aku mencintaimu..


------------------------------------------------------------------------


Kau dengar?


Jantungku tengah berdegup kencang


Tak perlu adrenalin. Cukup kau saja.


Ia akan berpacu dengan perasaan ini


Menandai lembaran-lembaran kangenku padaku.
24 lembar sehari, putri. Dan 24 lembar saja tak akan pernah cukup.


Kau dengar?


Jantungku tengah berdebar
dan setiap bunyinya adalah engkau, putri..
-----------------------------------------------------------------------------------


Rembulan mengawang dalam gelap
sinarnya lembut, memantul di permukaan daun yang basah
terasa mengkilat, menghantarkan sekepul ingatan
yang lama teronggok di sudut otak kecilku


Sejak malam itu,
aku sudah berhenti mengukur dan menghitung
;detik-detik yang kalap dan berlari dengan terburu-buru
;jarak yang menguak nasib antara


.................................................. ........................................
29.04.06
-------------------------------------------------------------------------------


izinkan aku,
mekar mewangi selamanya
menebar keindahan cintaku padamu


izinkan aku
menjadi kelopak terindah
yang tiada 'kan layu, mengabarkan hangatnya mentari
yang menerpaku..
-------------------------------------------------------------------------------------

Maafkan Aku, Mei

Senja melingsir di ufuk barat. Warna lembayungnya memayungi langit, membiaskan rona merah yang menggurat angkasa sore.
Spontan kulirik jam di mobil. Angka-angkanya berkedip menunjukkan pukul 5 sore. Kemacetan di hadapan mengisyaratkan aku akan sampai di rumah sekitar jam 9 malam. Kuhela napas. Risiko jalan-jalan ke Bandung di malam minggu.
Sesekali kupalingkan wajahku ke kiriku. Ia telah tertidur rupanya. Kuulas senyum samar.
Mungkin dia terlalu lelah…

Wajah itu begitu polos. Begitu indah. Kubelai anak-anak rambut yang menjuntai di dahinya.

Kugenggam erat kemudiku. Di dalam hatiku sedang berkecamuk satu episode yang lain.

*
‘Kamu akan pergi?’
Kutatap wanita itu. ‘Iya.’

‘Ke mana?’
‘Perlukah kujawab?’
‘Aku menginginkan jawaban, Re.’
Aku mendengus. ‘Untuk apa?’

‘Untuk diriku.’
Kali ini, aku berpaling. Menghadap wanita itu.

*
Kupelankan mobil begitu mencapai gerbang tol. Aku takut membangunkannya. Aku takut membuyarkan mimpi indah yang membuatnya mengulas senyuman.

Aku sayang kamu… karena itu kau harus percaya, aku tak akan pernah menyakitimu…
Kuhayati kembali kenangan perjumpaanku yang pertama dengannya. Sudah berapa lama sejak pertemuan di toko buku itu? Aku kembali tersenyum.

Betapa kehadirannya telah menyajikan kehangatan dan keceriaan dalam kegersangan hidupku.
Tol Cipularang yang sepi membuatku leluasa melajukan mobilku. Aku ingin melarikan diri dari waktu. Dari kenangan. Dari hipokampusku. Tapi betapa pun kerasnya aku berusaha, satu episode lain itu tetap terngiang di kepalaku.
*

‘Kau tak percaya padaku?’
‘Ini bukan soal percaya atau tidak, Re..’
‘Lalu?’
Ia memalingkan wajah.

‘Tak bisakah kau mengerti?’
‘Apa yang harus kupahami, Re?’ Kali ini ia menentang mataku. Dan kulihat sorot yang dibebani kesedihan yang sarat.
‘Percayalah padaku…Aku mencintaimu.’
‘Dengan semua kenyataan ini, Re?’
*
Sebentar kemudian angkasa merah telah berganti dengan senyapnya biru gelap. Kunyalakan lampu kabut, yang membelah aerosol yang didispersikan oleh udara.
Kupelankan AC mobil sambil meliriknya sejenak. Kedua matanya terpenjam.
Aku menyukai binar-binar di matanya yang bulat. Binar-binar yang menyiratkan perasaan gembiranya. Binar-binar yang membuatku tenggelam di dalamnya.
Tapi aku rela. Sekalipun aku harus lenyap demi dirinya, aku rela…
Aku mencintaimu tidak hanya dengan dua kata itu, Re
… katanya suatu ketika. Dan sejak itu pula aku berhenti membanding-bandingkan. Berhenti mencari perbedaan antara dua orang yang menitipkan hatinya padaku.
Untuk apa? Toh aku tak pernah bisa memilih.
*

‘Kenyataan apa?’
‘Masih perlu kau tanyakan, Re? Keabsenanmu! Semua ketidakhadiranmu!’
‘Sudah kukatakan, aku tak bisa menemanimu terus-menerus!’
Ia terhenyak. ‘Bukan cuma sekali-dua kali, Re! Selalu! Kau tak pernah hadir dalam sedihku! Bahagiaku! Semua keseharianku!’

‘Bukankah sudah kukabari? Aku sibuk! Mengertilah!’
Ia kembali terperangah. Lalu menggelengkan kepalanya.
Hening. Kuhela napas.

‘Rasanya sakit, Re.. Semua kesendirian ini… semua kepahitan ini… Dan kau tak pernah ada…’ Ia memalingkan wajahnya lagi. Sebentar kemudian, kulihat bahunya bergetar.
*
Kerlip lampu hias kota menyambut kedatanganku di Jakarta. Malam yang gulita terasa demikian meriah. Kulirik kedipan jam digital di mobil. Sudah jam 9.
Kuhela napas. Aku tahu, betapa tak adilnya aku pada mereka berdua. Betapa egoisnya aku.
Tapi, perasaanku tulus pada keduanya.

Truth hurts… Dan kadang, lebih baik bagi semua orang jika aku tetap diam. Untuk apa mengetahui kebenaran jika itu menyakitkan?
*

Kuhela napas panjang. Aku tahu, kesedihan itu telah bermuara tanpa dapat dicegah.
‘Jangan menangis untukku.’
Hening.

‘Aku harus pergi.’ Kulangkahkan kakiku. Dan tepat di depan pintu, ia memanggilku.
‘Re..’
Aku menoleh.

‘Re, kau mencintaiku?’
Aku diam.

‘Re, aku akan menunggumu…’
*
Aku turun dari mobil untuk membuka pintu pagar rumah Airin. Ia masih tidur, dan aku belum ingin membangunkannya.
Kukeluarkan ponselku untuk menelepon orang rumahnya. Lalu kusadari, ada sebuah SMS masuk.

Mei
07/07/06 20:30
When nite comes
Let the twinkle stars
Send my love for you
***End***

Baru saja ingin kubalas. Tapi aku teringat Airin. Kuhapus SMS itu.

Maafkan aku, Mei …


Pangeran Kodok

'Dia mengajarkan aku banyak hal.. tapi dia lupa mengajarkan padaku bagaimana caranya tidak bersedih pada saat aku harus menghadapi perpisahan dengannya..'

'Dia boleh ga ingat ama gw, tapi dia ga boleh ga ingat kalau dia harus jadi orang yang bahagia..'

'Gw ingat dia, tapi dalam hatinya, sama sekali ga ingat padaku.. Perasaan semacam ini, tahukah engkau betapa menyedihkannya? Untuk apa kusimpan semua kenangan ini?'

mirror image

……..Mirror Image

Mirror mirror hanging on the wall…
Embusan napas perlahan-lahan mengotori kebeningan kaca di dinding.
Sesekali, sepasang mata elang itu terpenjam. Seolah dengan begitu, semua galau akan lenyap.

Satu menit...
Dua menit...

Mata itu terbuka. Menatap pemandangan yang terefleksi di depannya.

Sesosok raga ringkih terfokus samar di fovea. Mengirimkan impuls yang membelah lobus optikus.
Dijulurkan tangannya, mencoba menghapus bayangan uap yang tadi menempel.

Sekarang, bayangan itu kian jelas. Tapi, masih saja itu bukan bayangan yang pernah ia kenal...bayangan yang ingin diingkarinya...

*

Mirror mirror i wish you could lie to me...

Ia mundur beberapa langkah. Sekarang ia dapat melihat keseluruhan tubuhnya yang tak terbungkus.
Samar-samar tonjolan tulang rusuk membayang di dadanya.

Dibelainya wajahnya sendiri.
Dan bayangan itu juga melakukan hal yang sama.

Air muka itu segera berubah. Air muka yang kini dicicipi oleh kemuraman.

Ah, betapa anicca telah menggerogoti tubuhnya.

Tidak, bukan hanya ini…

Ada sesuatu yang lebih banyak berubah.
Sekonyong-konyong, hipokampusnya memvisualisasikan tampilan memori..

Mata yang menatap nanar.. Kata-kata yang menghujam... tawa yang menghakimi...

*

You dont hafta tell me, who’s the biggest fool of all...

Tidak!

Rahang itu mengatup erat.
Telapak itu terkepal kuat. Dan meluncur begitu saja.

Prang!

Serpihan itu melayang di udara. Mengirimkan refleksinya ke mana-mana. Jatuh teronggok. Sekarang, ia tak lagi berguna. Hanya setumpuk beling yang berserakan.

Seandainya…

Semua ini hanya ego.
Ego yang memenjarakan.

Kembali, mata itu terpenjam.
Pelan-pelan, basah merangkul tatapannya.

Ia menengadahkan kepalanya. Mencoba menghirup napas banyak-banyak. Mencoba menahan kucuran yang berlinang.

Tapi..

Ia jatuh terduduk. Menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya.
Sakit karena belenggu ego kian lama kian menyempit, mencengkram erat jiwanya dengan luka-luka yang tak terlihat.

Tak terlihat namun nyata...

Tangis itu pecah. Tak bersuara, dalam tumpuan kedua lutut. Dalam bekapan sunyi.

---April’05 – Yang terlihat namun terlupakan..

750 detik

…..750 detik

*

[578…577…]

Seperti biasa, lidahku kelu. Aku hanya bisa menatapnya dalam diam. Dalam kekagumanku. Dalam keterpesonaanku.

[590…591…]

Padahal aku ingin sekali merengkuhnya. Membisikkan segenap kata-kata sayang yang ada. Membelai anak-anak rambutnya. Menjadi ucapan selamat paginya yang pertama.

Babe…

Tapi, aku masih hanya diam. Menatapnya hampir tanpa berkedip.

[600…601…602…]

Pantaskah aku? Bolehkah aku?

Bukankah kata orang, mencintai bukanlah dosa? Bukan dosa, selama kita tidak menodainya. Dan itulah aku. Aku datang padanya dengan rasa yang murni. Sayang yang tanpa pamrih. Tidak ada tedeng aling-aling.

Justru itu jugalah masalahnya… Aku tidak punya kekayaan. Tidak punya penampilan yang cukup berarti. Duniaku pun jauh dari gemerlapan bintang-bintang. Walaupun aku bahagia, aku menerima semua hidupku apa adanya, bisakah dia melakukan hal yang sama? Bisakah dia memahaminya? Menerimanya?

Ah.. aku mendesah.

[620…621…622…]

Lalu, bukankah seharusnya aku tak peduli akan semua itu?

Karena hatiku adalah samudera luas.. Tidak ada pedang setajam apapun yang bisa meretakkannya.. pun menggoreskan luka di atasnya…

Dan kubuka mulutku, bersiap mengeluarkan kata-kata yang telah kupendam itu. Seperti biasa, lidahku kembali kelu. Kelu dibanjiri adrenalin yang menderas.

[639…640…641…]

God damn*d! It’s been a while and nothing has happened –
yet!

Aku harus menambahkan kata itu. Yet. Dan semoga aku benar. Memang masih ada yet.

Ayolah.. nothing to lose…

Lalu dia berpaling. Dan melangkahkan kakinya. Seperti biasa, aku tak punya pilihan lain selain tergopoh mengikutinya.

[680…681…682…]

Kuraih lengannya. Dia menoleh dan memandangku.

God, matanya… aku rela tersesat selamanya ke dalamnya…

[689…]

‘Aku..aku…’

[691…]

Kutelan ludah. Rasanya tanganku berkeringat.

[694…]

Bagaimana caranya kujelaskan?

[696…]

Dia berpaling lagi. Kali ini langsung kuraih lengannya.

[699…]

‘I love you… And I don’t think I can live without you…’

Aku terkesima pada diriku sendiri. Kata-kata itu mengalir begitu saja.

[715…]
Lalu

[716…]
semuanya

[717…]
terasa

[718…]
bagaikan

[719…]
s l o w

[720…]
m o t i o n . . . . .

[721…]
Aku memandanginya berlalu.

[724…]

Ternyata aku salah. Meskipun hatiku adalah samudera, dan tidak ada pedang setajam apapun yang mampu meretakkannya, samudera itu tak akan ada artinya kalau tiada matahari. Dia akan membeku dalam kesunyiannya…

[750…]

Aku beranjak. Menerima kekalahanku.

[752…]

*end. 080606.

[buat seseorang yang terlihat dekat, namun sesungguhnya jauh banget dari gw.. Andai kugunakan kesempatan pertama itu untuk mengatakannya padamu… Andai…]

terjaga

tERJAGA

(Chapter 1 from my upcoming novel..)

KAMAR berukuran 2 x 4 m itu tidak kelihatan gelap sekalipun lampu yang menjadi penerangan satu-satunya di sana dipadamkan. Lewat jendela yang cukup besar, lampu jalan masih dapat menerobos masuk, meneranginya samar-samar. Dan karena kebanyakan benda di sana adalah translusan, terefleksikanlah bayangan. Sesekali lampu kendaraan yang lalu lalang menciptakan siluet yang bergerak.

Sosok itu masih duduk terjaga di ranjangnya, yang berada tepat di bawah jendela. Matanya menerawang, seakan sedang mencari-cari dalam kegelapan. Pikirannya sekarang adalah sebentuk kanvas putih yang tidak melompong sekalipun kosong. Dan otaknya adalah Sang Pelukis, yang menggenggam kuas dan cat di tangannya. Tapi tangan itu belum juga bergerak, tidak tahu hendak melukis apa. Atau mungkin…inspirasinya terlalu liar, datang bersamaan seperti air bah yang meluap dan menyeret kreativitas pergi bersamanya, sehingga dia merasa blur?

Teng! Jam di dinding berdentang pelan, sekaligus membawa dia pulang dari kesadaran pasifnya. Medula Spinalisnya serentak memberi refleks untuk melirik jam tua itu. Jarum pendeknya sudah sampai di angka tiga. Berarti sudah hampir 240 menit dia duduk di sana. Duduk dalam suasana yang hampir statis dalam pandangan seorang manusia.

Ia menguap lebar. Matanya terasa berair.

Saat itu juga disadarinya, suara-suara televisi ribut dari suatu tempat di sebelah tidak lagi terdengar.

Senyap yang tiba-tiba segera melingkupinya, sebelum dalam jeda sepersekian detik, ia kembali menangkap suara detik jam : Sang kakek tua yang memberi definisi detik, menit, dan jam hanya dengan 3 tongkatnya.

Tik-tak-tik-tak—suaranya bahkan kedengaran lebih teratur daripada detak jantung. Tidak dipengaruhi oleh hormon, akitivitas, dan lain-lain. Hanya bertumpu pada baterai. Tidak seribet jantung manusia yang sekepal tangan tapi merepotkan.

Ah, sudahlah!

Laki-laki itu mencoba mengacuhkan bunyi detik yang membuat senewen.

Dibaringkan tubuhnya. Di belakang kepala, kedua lengannya tersilang menopang. Kembali berusaha untuk terlelap.

Satu menit…. Dua menit… Tapi entah mengapa mata itu masih enggan terlelap. Kalau saja dia tahu bagian otak mana yang mengatur rasa kantuk…meskipun dia sadar, mengetahuinya pun tidak akan membawa perubahan apa-apa. Hanya saja, sejak lama topik mengenai otak dan saraf-saraf sudah menarik perhatiannya, sekalipun dia bukan lulusan spesialis saraf. Baginya, menarik sekali mempelajari harta utama manusia itu. Apalagi ternyata manusia belum mampu memanfaatkan potensi otaknya sampai 100 persen.

Sudah lelah dia menepis anggapan insomnia dari rekan-rekannya. Atau saran-saran berlumer rasa simpatik, untuk menggunakan obat-obatan sedatif. Dia merasa belum memerlukannya. Lagipula, tidak akan ada gunanya. Ini adalah masalah yang lain.., dia yakin itu.

Bukan itu saja. Dia masih harus mendengar komentar-komentar soal iris birunya yang kontradiktif dengan kantung matanya yang hitam. Ya, tanpa berkaca pun, dia tahu bagaimana tak karuannya wajahnya.

Eh, bukannya aku sudah hampir tidak pernah berkaca lagi?

Edward tersenyum sendiri. Senyum yang mungkin akan dilabeli senyum orang gila kalau dilihat d i a .

Baru saja ia hendak menutup matanya, sekali lagi, kala gerimis jatuh satu-satu. Hujan membuat angin yang bertiup memasuki kamarnya terasa basah. Dingin. Dingin yang membuat siapa pun akan merindukan matahari, dan berhenti mengeluhkan tentang siang yang terlalu terik. Dibandingkan dengan musim dingin di Mannheim atau Ottawa sana, masih tak seberapa. Tapi John mungkin sudah meringkuk di bawah selimutnya. Reseptor kulitnya paling tidak tahan dingin. Dalam hatinya Edward mereka-reka berapa jumlah selimut yang dipakai oleh John. Dan membandingkannya dengan piyamanya yang hanya berupa singlet dan bokser pendek.

Hey, by the way, what’s the Indonesian for ‘cold’? … dia mulai mengolah otaknya. Sekali lagi, senyum itu tersungging di bibirnya begitu ia mendapatkan jawabannya.

Tiga bulan sudah ia di sini. Kemampuannya berbahasa Indonesia sudah bisa mengundang decak kagum, biarpun logatnya masih terbawa-bawa. Memang benar, bahasa Indonesia termasuk mudah.

Three months already… Tiga bulan yang terasa seperti sudah selamanya. Bagaimana tidak? Hari ini adalah pengulangan kemarin. Yang berbeda mungkin hanya waktu saja. Kata Einstein, semua ini relatif.

Tapi, peduli apa?

Meski begitu, sebagian nuraninya menyuruhnya untuk tetap tinggal di sini. Nuraninya yang bahkan belum tentu menjejak nyata itu enggan meninggalkan Indonesia, untuk alasan yang…

… tidak ada. Atau tidak tahu? Em..

Padahal kalau bicara logika, sudah 30 hari yang lalu dia angkat kaki. Mungkin ke Papua sana. Kepulauan Fiji. Bertualang. Dan meninggalkan orang-orang itu di sini dengan sejumlah kenangan yang menjejal di cerebrum mereka. Yang terpenting, dengan pergi- pergi begitu, dia tak perlu lagi ber-formalitas. Dia paling membenci segala macam bentuk formalitas. Menurutnya, formalitas hanya bentuk lain dari keterikatan yang hakikatnya membatasi kebebasan ekspresi. Kata orang lain, dia terlalu kaku.

Well, adalah tidak mungkin seratus persen mengabaikan opini orang. Karena memang begitu nasib manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak bisa hidup sendiri. Ironis, kalau dikaji lagi pepatah homo homini lupus. Manusia adalah serigala bagi sesamanya. Manusia yang satu juga sudah membatasi kebebasan manusia yang lain, secara tidak langsung. Tapi pada kondisi ini, manusia tidak punya pilihan lain selain menerima. Menerima.

Ahhhh…..Edward menggeliat. Dengan bertopang pada satu lengannya, ia bangkit melirik jendela sekilas. Sapuan warna terang menyembul di cakrawala. Sebentar lagi pagi. Dan itu cuma berarti satu hal : K E R J A.

Pagi nanti dia harus mengajar. Lewat jalan satu-satunya yang notabene tidak pernah kelihatan berubah setiap harinya. Sia-sia saja berharap alien akan mencul mendadak. Tambahan lagi, dia harus menghadapi orang-orang asing yang masih juga menatapnya seperti menatap seorang turis bodoh. Atau pedagang kaki lima yang menganggapnya gudang udang berjalan. Padahal, tanpa membuka mata pun, dia mungkin bisa sampai ke kantornya. Seperti seorang juru ketik yang bisa mengetik dengan 10 jari tanpa kesalahan, walaupun tidak melihat keyboardnya. Hanya saja, dia masih ingin menikmati wajah orang-orang yang ditemuinya tiap pagi. Semuanya hanya punya satu tujuan yang terukir jelas di keningnya : UANG. Tanpa disadari akhirnya mereka diperbudak oleh benda mati itu, sementara di luar tubuhnya, mereka sibuk mengutuk-ngutuk segala bentuk perbudakan. Ujung-ujungnya, tercipta manusia-manusia buta yang tidak terpuaskan. Lalu keserakahan, dan pada puncaknya tindakan-tindakan manipulatif.

What’s in it?

Alangkah naifnya kalau menyalahkan kondisi sebagai penyebabnya. Kondisi bukan hantu, bukan pula Tuhan. Kondisi tidak berkuasa atas manusia.

Dia sendiri mengakui, uang memang hebat : tanpa uang, kau bisa apa? Edward menghela nafas. Materi sudah seperti darah dan daging dalam kehidupan manusia. Tidak heran kalau manusia mengorbankan fisik, mental, dan waktu untuk mengejarnya. Kehidupan sendiri telah berevolusi dalam tangan-tangan yang tak terlihat, sehingga manusia akhirnya lupa. Lupa kalau seharusnya manusia hanya mencari materi, bukan mengejarnya.

Sekonyong-konyong, Edward merasa konyol sendiri. Memangnya siapa dia, yang berhak menghakimi manusia-manusia? Ia sendiri juga manusia. Dia tersenyum lagi. Dan didapatinya lagi dinding kamarnya yang sunyi.

Rutinitas memang membosankannya. Tidak ada yang terlihat benar-benar baru di sini…atau dia saja yang belum menemukannya? Tapi apa yang harus ia temukan? Di mana semua pengalaman baru itu di saat ia ingin mencicipinya? Semua yang terjadi di sini seperti hanya mengikuti sebuah pola sama yang terlihat teratur, padahal sebenarnya tidak. Ketimpangannya berbaris dengan teratur, terlalu teratur untuk dideteksi, membagi manusia dalam dua jajaran besar : manusia yang ikut arus dan manusia yang tetap apa adanya.

Then what about me?...

Hidupnya sudah berubah demikian drastis kalau direferensikan lagi dengan saat-saat pertama kali dia menginjakkan kaki di Medan…

Ketika ia di hadapan...

Malam menjelang.
Hujan masih jatuh menerpa kaca depan mobilku, menyisakan pemandangan buram yang monoton di hadapanku. Hanya wiper mobilku yang masih dengan setia bergerak ke kanan-ke kiri, sekadar menunaikan tugasnya.

Kunyalakan lampu depan mobilku, sama seperti jutaan pengemudi mobil lainnya yang patuh dengan prosedur standar menyetir. Dan tepat saat itu, sinar kuningnya menerangi sosok seorang penyeberang jalan yang muncul mendadak di depan mobilku. Tergesa, aku segera mengerem.
Dan mobilku berhenti tepat di depan sang penyeberang jalan itu.

Detik berikutnya, mataku melihat gadis itu menjatuhkan payungnya. Rambutnya yang panjang tergerai begitu saja, dan segera basah oleh rinai-rinai hujan. Seuntai liontin berukiran huruf W menggantung di lehernya yang jenjang ....

***
Dua jam sebelumnya
.
.
.
Hujan sudah berhenti membasahi mobil tatkala kuturunkan kaca jendela mobilku. Kumatikan AC mobil. Aku selalu menyukai bau tanah yang tercium sehabis hujan. Langit terlihat begitu biru dan bersih.

Kunyalakan radio mobil. Sekadar mengusir kemonotonan yang disebabkan kemacetan di hadapanku. Interlude lagu yang mengalun memenuhi ruang kosong di mobilku segera mengetuk pintu hipokampusku. Dan pita memori itu pun berhamburan tanpa permisi lagi...

Wina......

*

'Piet, kenalin. Ini Wina. Wina sedang jomblo, lho..'
Aku tersenyum, sementara gadis di depanku itu tengah mendelik pada Livia.
'Win, ini sepupuku, Pieter. Anaknya baik, lho..'
'Hai,' kuulurkan tanganku.
'Nah, sekarang bukan cuma aku yang bisa happy, kan?'
'Thanx, sis. U're the best. Have a happy wedding ever after, sis.' Kupeluk kakak sepupuku itu.

Dan semuanya bermula sejak malam itu...

*
Din! Din!

Suara klakson membuyarkan dialog-dialog usang di kepalaku. Kulirik spion, lalu lampu lalu lintas di depan. Sudah hijau kembali rupanya. Dengan patuh kujalankan mobilku.

Wina...

Ah, tidak. Aku harus berhenti memikirkan dia...

But how? Every corners in this town reminds me about her...

Kulirik keluar jendela. Rasanya tidak ada tempat yang belum pernah kami datangi. Resto di pojok sana. Butik di seberang jalan. Cafe tenda di sebelah kiri sana. Bakery di sebelah kanan butik. Semuanya.. Rasanya masih bisa kuingat setiap dialog yang pernah terjadi di sana..

'Loe ga cocok make baju itu, Piet. Coba yang ini.'
'Roti itu ga enak. Aku pernah nyoba. Mending yang ini.'
'Eh, ini enak. Cobain, deh.'
'Menurutmu gimana? Aku cocok ga dengan baju ini?'

Pernah kucoba untuk lari dari belenggu pita memori yang kusut ini. Lari dari kota penuh kenangan indah yang rasanya pahit ini. Lari dari semuanya... Tapi kemudian kusadari, semakin jauh aku lari, semakin sering pula aku kangen. Semakin sering pula hipokampusku memutar semua pita memori itu, menayangkannya menjadi film bisu berdebu yang seperti berdurasi seumur hidupku.

Dan aku pun kembali. Menyongsong semua kenangan itu. Mencoba mengurai kembali kekusutan pita memori itu. Agar aku kembali lebur bersamanya...

Kuputar kemudiku ke kanan. Dua blok dari jalan ini, ada sebuah toko perhiasan. Tempatku memesan sebuah liontin untuk ulang tahunnya. Liontin berukiran huruf W.

'Happy continuation day, honey.. Semoga kebersamaan kita terus berlanjut..'

Hanya itu pintaku di hari istimewa itu. Tapi tidak sampai tiga bulan kemudian, semuanya berubah.
Ia menghilang dari hidupku begitu saja. Tanpa jejak. Tanpa kabar. Keluarganya bahkan menutup mulut rapat-rapat, menyisakan misteri yang demikian menyiksa.

Aku kangen padanya. Kangen, tapi tak tahu mesti mencarinya di mana.

Dan hujan kembali menganyam langit, jarum-jarum peraknya turun membasahi bumi.

Aku lelah. Aku ingin pulang...

***

Kembali ke momen sekarang
.
.
.

Aku masih terhenyak di belakang kemudiku. Tak lagi kuhiraukan klakson mobil di belakangku.

Kubuka pintu mobilku. Dan berdiri mematung.

Hujan yang menderas segera menghujam tubuhku.

Tapi aku masih bisa melihat jelas. Masih bisa mengingat dengan jelas. Masih bisa mengenali wajah di depanku, betapapun ketidakkekalan telah menggoreskan perubahan di sana.

Aku tersenyum lembut. Ia menatapku tanpa ekspresi.

Wina...

****END


Mapel

M a p e l

[based on a song same-titled by Jay Chou]

Daun-daun mapel berguguran di luar jendela.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap bengong helai-helai daun yang melayang di udara itu.

I listen respectfully to my mood, which has already been quiet for a long time
Clear and transparent
Just like the beautiful scenery
It’s always only clear when seeing it in my memory

Hari ini, aku sudah diperbolehkan pulang. Itu artinya aku tidak perlu lagi kerepotan dengan infus yang menghujam nadiku. Tidak perlu lagi menatap langit-langit putih datar yang sama setiap malamnya. Tidak perlu lagi mencium bau obat dan alkohol yang pekat.

Kulangkahkan kakiku menyusuri koridor rumah sakit. Sendiri. Orang yang justru sangat kuharapkan dapat berada di sini malah tidak ada di sampingku…

Let love permeate through the ground
All I want is you to be by my side

*

Daun-daun mapel berguguran.

Beberapa helainya jatuh menyentuh kepalaku, memanggilku kembali ke alam nyata. Sudah musim gugur kembali rupanya. Kutengadahkan kepalaku, memandangi pohon tua di halaman rumahku yang kini seperti dihiasi warna-warna emas.

The maple leaves slowly falling down are like thoughts
Why must retrieving be hurried before winter comes?
Loving you passing through time
Two rows of tears from the end of autumn

Semua berubah demikian cepat, terutama sejak kecelakaan itu.

Begitu tersadar, aku sudah melihatmu bersamanya. Waktu seolah mengunci hipokampusmu, dan memori masa lalu seperti menguap entah ke mana. Aku menghela napas, dan menertawakan jalinan karma.

The tenderness in the past has already been locked by time
Only leaving sadness that doesn’t go away

*
Kutatap sepasang punggung yang perlahan menjauh itu. Sepasang punggung yang telah amat kukenal... satunya milik sahabat terbaikku, satunya milik seseorang yang sampai kini masih menempati dasar hatiku yang paling jujur.

Senja masih menyisakan langit yang biru, menggurat di antara lembayung merah yang mendadak terasa demikian pedih. Kuulas sebuah senyum samar.

Biarkan semua memori itu aku yang simpan, sayang...

I light a candle to warm up the end of autumn
The northern lights plunder the edge of the sky
The northern wind brushes past the expressions of missing you
I take love and burn it into fallen leaves
Yet I can’t get back that familiar face

*


Death Monolog ....

I use a sad but beautiful font
To describe love that is too late to regret

DEATH MONOLOG #3

(based on a song by Jay Chou entitled ‘Ye Qu’ (Nocturne))

Angin bertiup sepoi. Dedaunan yang melayang di udara tersapu perlahan, hingga akhirnya gugur ke bumi. Di atas semen putih, bayangan pohon yang telah lama kerontang seperti berusaha menggapai-gapai matahari.

Langit biru kelabu. Atmosfer yang dingin diselimuti hening yang demikian pekat, memenuhi seluruh pelosok paru-paru yang kosong. Membuat udara terasa demikian berat membebani dan menyesakkan.

Ia berjalan.

Hazy fog is all around

I am at the vast and boundless cemetery

Selangkah demi selangkah.

Lambat sekali, seolah ia memang tak ingin cepat-cepat sampai. Di tangannya tergenggam sebuket mawar berwarna putih, yang masih harum. Mawar yang rapuh, serapuh hidup manusia…

The memories that are day-by-day becoming colder

Walk past

Di depan sebuah nisan putih yang tampaknya masih baru, ia berhenti dan berlutut.

Losing you

Love and hate start to become clear

Losing you

What else is there to care about?

Matanya memandangi sebuah foto kecil yang terpampang di nisan. Tatapan yang masih sama seperti dulu; begitu teduh dan hangat. Tatapan yang menyimpan sejuta makna indah di dalamnya. Tatapan yang menyaksikan segenap janji yang tak sempat berbuah menjadi kenyataan…

Ia tidak tersenyum. Tidak pula menangis. Atau sesungguhnya kepergian kekasihnyalah yang telah merenggut sesuatu dari hatinya, dan meninggalkan lubang besar di sana?

Tangannya tergerak merapikan serpihan kelopak putih mawar yang telah tiga hari terletak di sana.

In the park

The echo of the funeral

Flying in the boundless sky

And the story begins...

Piuh... Finally..

I've been reading about blog-making-trend all around recently.. i've been wandering around.. downloading this blogspot dot com a few times, trying to sign up.. Yet i just cancelled them..

No use, i think, because i myself have already had another one @ Friendster :
http://listen-to-esdoubleu.blogs.friendster.com/my_blog/.. hehe.. Just trying to promote.. U surely have to visit it sometimes, coz i dont make a double publication..

But later i find myself again.. I find the same old honesty.. That i can write, i have passion to write..

Okay.. This is my very new beginning..So.. need your help and support..Thanx..



....es.....
The love is not enough ---;)