#maukahkamu..?


Maukah kamu, menyambut jemariku ini? Lantas menggenggamnya erat-erat, seperti sebuah jangkar yang mengikat perahu? Agar kuyakin bersamamu, bukan mimpi belaka.

Maukah kamu, menjadi bongkah-bongkah gula yang meleleh dalam bara yang mengurai? Entah pada kopiku, atau teh, mengisi cangkir tempatku menyeruput rasa.

Maukah kamu, mengurai irama yang berima sebagai tuts piano? Lantas kita nyanyikan serenada tentang hidup, dan chorus-nya adalah sesuatu bahagia yang melonjak-lonjak lincah.

Maukah kamu, menjelma udara tempatku menghela sebuah takdir yang sesungguhnya teramat sederhana: bahwa aku tak akan pernah bisa tanpamu?

Maukah kamu, menjeda bersama tanda baca di alinea tentang kita? Entah itu seru yang teguh! Koma yang menggelitik, titik yang membintik. Atau bahkan tanya ragu? Aku, menunggumu seperti ke-26 aksara menanti untuk menjejak nyata.  

Maukah kamu, menggumpal sebagai warna dalam paletku? merah kuning hijau dan biru, putih hitam bahkan abu-abu? Kita taburkan pelangi ke udara.

Maukah kamu, menggelung mesra seperti setangkup selimut hangat? Lantas kupeluk erat dirimu saat cuaca dingin atau sepi menderit. Lelapku, adalah di dalam dekapmu.

Maukah kamu, bersama mengabadi di dalam album foto? Membingkai seluruh kenangan ke dalam senyum, lalu kita kecoh waktu. Maka malaikat maut hanya bisa mendengus cemburu: ada yang tak terpisahkan oleh ajal.

Lantas, maukah kamu, bila kuberikan padamu perca-perca rindu? Biar kita menambal waktu dengan perban yang tak akan usang dan lekang..

P E L U K

inspired by Peluk, Dee feat Aqi Alexa.
Not as good as Dee's original piece, Peluk (Rectoverso), but enjoy. Bahasa Indonesia. Leave some feedback. ;-)
|Menahun, ku tunggu kata-kata, yang merangkum semuaDan kini ku harap ku dimengerti, walau sekali saja pelukku |

Dini hari. Sudah berapa jam bisu itu menjejak di atmosfer kita? Sudah berapa ratus menit pula kita habiskan hanya saling menatap, lalu berpaling, seolah dengan begitu semuanya akan usai? Tambahkan pula hitungan detik yang terus berdetak, berlari lamat-lamat, seolah ingin mengukir tanda-tanda nelangsa di wajah kita.

Atau, kebisuan ini malah sudah berlangsung selama bertahun-tahun? Di hari ketika kita berhenti saling memahami, dan malah berlari saling menjauh dan bersikap apatis. Atau, justru sejak tak ada aksara apapun yang bisa menggenapkan rasa yang ada di hati? Dan mendadak, cinta menjadi bahasa yang tak lagi kita pahami perbendaharaannya?


|Tiada yang tersembunyi, tak perlu mengingkariRasa sakitmu, rasa sakitku |


Tapi dini hari ini, hanya ada kita. Kita dan kebisuan kita. Yang mengairi relung-relung kita, dan bermuara seperti menjelma dalam secangkir kopi pekat yang pahit untuk sarapan di pagi hari. Yang mencuri pergi gula dan sendok-sendoknya, sehingga manis itu hanya menjadi sesuatu yang pernah ada..

Aku nelangsa, kau tahu itu.
Kau galau, aku tahu itu.
Tapi tak ada jembatan untuk menghubungkan rasa. Dan tahu tidak sama dengan paham.

Dini hari ini, tak perlu lagi bersembunyi dan bermain kucing-kucingan. Aku bukan kucing, kau bukan tikus. Kita lebih baik dari itu. Kau, lebih baik dari itu.

Aku menatapmu. Lekat-lekat. Mencerna lagi semua yang pernah ada. Melihat kembali bagaimana gulungan memori itu berputar - aku mencari-cari lagi rasa itu, berharap barangkali ada sorbitol yang bisa menawar. Lagi-lagi, yang terbayang hanya kopi kental keparat itu.

Aku mendengus.


|Tiada lagi alasan, inilah kejujuranPedih adanya, namun ini jawabnya |

Kau menatapku. Dalam-dalam.
Katanya, mata adalah jendela jiwa. Di dalamnya ada kejujuran yang mengalir, dan tak berhenti sekalipun didera kemarau dan dihadang karang. Seharusnya begitu. Dan itu menakutkan.

Karena di dalam matamu, ada kejujuran itu. Kejujuran yang membuat kita saling menghindar, seperti takut pada sengatan listrik.

Kau sadar. Aku sadar. Pedih itu tak hilang walau kita mencoba untuk lupa. Untuk amnesia. Tapi amnesia hanya ada dalam fiksi picisan - yang tak pernah gagal membuatmu menangis.



|Sadari diriku pun kan sendiri, di dini hari yang sepiTetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata|

Kakiku mengejang. Tanganku membeku.
Aku tak sanggup melangkah.
Aku tak bisa melewati jarak antara kita, yang meski dekat dalam satuan meter, sesungguhnya jauh tak terperi.

Aku menatapmu, lagi dan lagi.
Kau menatapku, lagi dan lagi.

Lidahmu kelu. Bibirmu terkunci rapat oleh waktu.

Aku berpaling, lagi dan lagi.
Kau berpaling, lagi dan lagi.

Kali ini, kau lihat tirai jendela yang menutupi selapis gelap yang pekat di luar.
Dan kudapati tembok yang sama bisunya. Kutinju sekali. Dua kali. Tiga kali. Dinding itu bergeming. Sakit di hati tak jua berkurang..


|Tiada yang terobati di dalam peluk iniTapi rasakan semua, sebelum kau kulepas selamanya

Tak juga kupaksakan setitik pengertian, bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama|

Tidakkah kau lelah?
Memaksakan seulas senyum.
Duduk semeja berdua untuk sarapan pagi yang selalu terasa hambar dan tawar.
Merasa pengap dalam ruangan yang sekarang terasa sumpek dan kecil, hingga ingin selalu berlama-lama di tepi langitmu yang selalu menunggumu membentanginya.

Tidakkah kau ingin bebas?
Sayapmu telah lama terkungkung. Rasanya pasti sakit.

Aku mengerti. Aku mengerti apa yang harus kulakukan.
Dan kulihat riak di wajahmu juga berubah, tatkala menatapku yang sedang memandangimu.

Aku tahu, kau juga telah mengerti.
Kuseret kakiku. Mendekatimu. Kini tak perlu lagi berpaling.

Kujulurkan tanganku. Menggapaimu. Merengkuhmu.
Kau membalasnya. Mendekapku erat-erat.
Kejujuran itu menemukan muaranya sudah. Kau tersedu. Air matamu menetes satu-satu, membasahi piyamaku.

Rasanya masih sakit..

Berhenti mencari aksara dan kata. Karena dalam kata selalu ada dusta. Dan kita tak lagi butuh alasan. Kita tak butuh rangkuman.




Lepaskanku segenap jiwamu, tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang, dan tak layak kau didera
Dan kini ku berharap ku dimengerti, walau sekali saja pelukku



suatu sore, ketika hujan merintik dan lagu Peluk berputar diulang-ulang secara keji di mp3 player

aku (memang) menunggumu

:::@rahneputri
:::@mbakdan

aku menunggumu, di ujung yang bernama kelak. datanglah, temui aku dengan tawa yang gelak, seperti awan yang berarak dan arus yang menggerak.

aku menunggumu kembali, untuk sekadar menuntas perasaan yang mati lali. menampali dengan rindu yang memerca. dan di sana, kita bertukar kenangan seperti hujan dan matahari yang berbagi pelangi.

aku menunggumu, berlabuh seperti mimpi yang usai di pangkal pagi, yang telah lama kita ketahui. seperti janji matahari yang menyepakat, yang lalu jatuh ke bola matamu, yang mesra berbisik sesuatu rahasia.

aku menunggumu, seniscaya satu tambah satu sama dengan dua. lalu di ruah waktu yang tumpah seperti pasir tak tergenggam, kita bersua. mungkin merayakan pertemuan yang tak lagi dibayangi perpisahan.

aku menunggumu, seperti mendung bersiap menggerimis. seperti bumi yang merindu cerap basah yang kuyup. seperti laut yang menanti rinainya kembali bermuara.

aku menunggumu, sebagaimana suara yang meluncur dari bibirmu, menantikan gemanya berpulang. menimpali kata dengan ekor bunyi, seperti kerdam yang menggaung meredam rindudendam.

aku menunggumu, seperti merah menjanjikan senja sebuah lembayung. seperti pagi yang tak jera menghalau malam: pasti, selalu, dan barangkali, selamanya.

aku, memang menunggumu.
Untuk sebuah Mengapa yang tak pernah butuh Karena. Untuk seluruh yang mengutuh di dalam genggaman tanganmu.

Warna

:::@mbakdan


Kuingin membiru, seperti sekaki payung yang engkau pegang ketika hujan merinai, dan matahari menjadi terlalu mahal untuk kau tebus. Genggam erat diriku, akan kuhalau badai yang menderai.

Kuingin menguning, lantas mekar menyadur cinta yang sebagai menghelai tersembunyi di tiap kelopak krisan. Menghias pelataranmu penuh seluruh. Datanglah, dengan rindu yang kupu.

Kuingin memerah, selayak gincu yang memoles ranum bibirmu, melekat selamanya sebagai nama yang senantiasa kau eja: entah itu lirih malu-malu atau lantang bertalu-talu.

Kuingin menjingga, maka kuaskan aku untuk menatah makna langit senjamu: fana memburat di kanvasmu, namun tetap abadi dalam niscaya.  

Kuingin mengabu, menawar kelam hitam dan tatih putih, seperti kopi yang bertemu susu saban pagi. Lantas kau reguk, teguk, hingga aku pun takluk.

Kuingin menghijau, seperti segar daun teh yang memucuk untuk kau petik, kau jentik. Menunggumu membubuh bongkah gula, hingga manis takdirku..

Kuingin memutih, seperti helai kertas yang mencarik, menunggu kau tulis. Kau bingkai ke dalam uban yang saksi. Menjelma kelak yang penuh gelak.

Dan kuingin merona, seperti gelepar ikan yang dikembalikan ke laut, yang lalu hidup penuh sahaja. Engkau, lautku..

Sang Sepasang

Kita: Gerimis dan Payung,
yang dipertemukan
oleh hujan..

*judul diinspirasi oleh blog ini

#AkuHanyaIngin

Aku hanya ingin, 
menjadi almanak
tempatmu menghitung hari. 


Aku hanya ingin,
memfosilkan bahagia
ke dalam binar di matamu. 

Genap dan Ganjil

Cinta itu, seperti bilangan ganjil.
Ketika dibagi kita berDUA,
selalu menyisa satu:
entah itu rindu, bahagia, kenangan,
atau bahkan rasa sakit..

Deja Vu

Barangkali itu kamu, secabik masa lalu yang menjelma ketika kopiku kelebihan susu. Lalu kamu tertawa samar, mengejek Latte yang tak jadi. Tidakkah kamu seperti itu: gurih kenangan yang menyaru susu, lalu menyisa pahit yang serupa kopi?


Barangkali itu kamu, ketika aku sontak menoleh ke kursimu yang kosong, dengan cangkir kopi Winnie the Pooh milikmu yang sama melompongnya. Seperti seraut bayangan yang tiada, tetapi entah mengapa selalu terlihat berkelebat di sudut mataku. Membuatku ingin menoleh, lagi dan lagi, untuk kemudian mendapati sekerat masa lalu dan wajah-wajah familiar yang seperti memantul dari rumah kaca.


Barangkali itu kamu, sebaris nama yang lantas kueja, tanpa perlu kutahu artinya. Kugantungkan setanda tanya di ujung suara, meragu pada sedekap harap yang kupeluk, tanpa kupaham kapan ia akan kembali meranum matang.


Barangkali itu kamu, pintu yang tak pernah bisa kubuka kembali, ketika aku merogoh saku untuk mencari kunci pintu apartemenku. Dan ketika kudengar suara ketukan di depan pintu, ah, betapa aku berharap itu adalah kamu.


Barangkali, itu kamu. Wajah-wajah yang menatapku kala aku menapak di trotoar untuk berangkat kerja. Refleksimu yang menjelma rindu yang membuntu bisu. Kamu tahu, detik ini juga aku ingin menggenggam tanganmu seperti yang biasa kulakukan saat kita berjalan beriringan menuju kantor. Tapi yang ada hanya kesunyian yang teramat panjang.


Dan barangkali itu kamu, déjà vu yang menjeratku untuk terus lupa: bahwa kamu hanya masa silam. Dan.. barangkali itu juga aku, yang memilih lupa dan tersesat di labirin masa. Terasing dan terpasung seperti pasien sakit jiwa di dalam straitjacket..