Negeri Hujan: Petrichor dan Geosmin (part 3)

@eswlie untuk @writingsession
Untuk informasi lanjut, kunjungi writingsession.tumblr.com


Penguasa itu bersuara lagi, “Namaku Sisyphus. Karena satu kesalahan fatal yang kulakukan, aku terpisahkan dari kekasihku Andromeda. Kini ia telah menjadi bintang di langit sana. Sedangkan aku dikutuk menjadi penghuni lautan. Aku telah mencoba menguapkan seluruh tubuhku melalui proses yang menyakitkan, mengubahnya menjadi titik hujan di langit, namun tetap saja aku tak bisa menyematkan rinduku untuk Andromeda. Aku selalu terhempas ke tanah, pecah berkeping-keping, dan tak ada yang bisa kulakukan selain mengalir kembali ke laut dan mengulangi proses yang sama lagi dan lagi.”

Petrichor mengerti kini. Jadi inilah sebab mengapa hujan turun tanpa henti di Negeri Hujan. Ada seorang pencinta yang mencoba menceritakan rindunya yang berusia berabad-abad untuk sebuah bintang di langit sana. Kekasihnya yang bukan hanya jauh, tetapi juga tak tergenggam...

“Aku punya ide, Yang Mulia Sisyphus.” Maka Petrichor mulai membekukan rinai-rinai hujan, menganyamnya menjadi jarum-jarum perak. Dengan jarum-jarum itu ia kemudian menjahit rinai-rinai hujan di udara dan menganyamnya menjadi sebuah tangga. Semakin lama tangga itu semakin tinggi, membawa serta Petrichor ke langit.

Di langit tertinggi, ia membekukan lagi rinai-rinai yang tersisa, mengumpulkannya dan menjahitkannya menjadi gumpalan-gumpalan yang semakin lama semakin menyerupai kapas. Setelah cukup lebar, ia mendaratkan diri ke atas gumpalan kapas itu, dan lalu membuat gumpalan kapas yang lain. Ia meloncat dari satu gumpalan dari gumpalan yang lain, dan setiap ia mendarat, terdengarlah gemuruh yang bercahaya. Cahayanya begitu menyilaukan sehingga membangunkan bintang-bintang yang terlelap di siang hari.

Petrichor kemudian membekukan lagi rinai-rinai hujan, menjadikannya kristal-kristal indah dan menempatkannya di atas gumpalan kapas itu. Kristal itulah yang kemudian memantulkan cahaya bintang di langit. Dan melalui jejak cahaya itu, Sisyphus akhirnya menyematkan rindunya di langit.

*
Hujan mulai mereda ketika Petrichor turun ke bumi melalui tangga hujan.
Sisyphus berterima kasih padanya, dan ketika hujan berhenti, ia menghadiahkan tetes hujan terakhir kepada Petrichor. Petrichor membekukan titik air itu, dan terbentuklah kristal besar yang memancarkan 7 cahaya.

“Anak muda, itulah Keping Kristal Hujan Terakhir yang kau cari. Pakailah untuk mengobati kekasihmu. Semoga kalian berbahagia.”

Petrichor berpamitan pada Sisyphus, dan dengan gumpalan kapas yang ia jahit di langit, ia melesat menuju Geosmin.

*
Tabib Tellus dan segenap penduduk Negeri Hujan menyambut Petrichor dengan gegap gempita. Hujan telah berhenti turun, dan untuk pertama kalinya, semua orang melihat matahari. Kali ini, langit dipenuhi gumpalan kapas putih yang di kemudian hari disebut sebagai awan.

“Telanlah Keping Kristal itu, Petrichor.”

Petrichor menelan kepingan itu, dan dari kedua matanya, mengalirlah air. Tabib Tellus, yang menamakan air itu sebagai air mata, menampungnya dan menggunakannya untuk mengobati Geosmin.

Selang beberapa saat, Geosmin membuka matanya, dan mendapati Petrichor. Ia mengucapkan cintanya pada Petrichor, dan lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Semua telah terlambat. Petrichor terus menerus mengeluarkan air mata, menyalurkan kesedihan yang menghimpit dadanya. Itulah yang kemudian dikenal sebagai menangis.

*
Sudah seminggu lamanya Petrichor menunggui makam Geosmin. Rasa sedihnya sudah berkurang, digantikan perasaan hampa yang mengosongkan hatinya.

Sisyphus melalui awannya mendapati pemuda itu bersedih. Ia menghampiri pemuda itu, dan menawarkan suatu bantuan.

“Kau bisa bersama dengannya, tetapi kau harus bersedia berkorban.”

Petrichor setuju, dan oleh Sisyphus, ia dan Geosmin diubah menjadi Senyawa Hujan. Hujan kembali turun dari awan Sisyphus, namun kali ini rinainya berwarna kelabu. Kedua senyawa hujan hanya bersatu ketika hujan turun.  Itulah yang kita kenal sebagai bau khas tanah basah setiap hujan mengguyur. Dan cinta mereka berdua, karena Keping Kristal Hujan Terakhir yang mereka telan, berubah menjadi bianglala yang menghiasi langit selepas hujan. 

Sejak itu pula, hujan selalu menghadirkan rindu kepada para perindu yang memikirkan kekasihnya... *END

3 komentar:

Ajeng said...

aku sukaaa

Esdoubleu said...

terima kasih Ajenggg :)

febs said...

bagus..

coba loe posting di ngerumpi.com
pasti banyak yg ngefans...

=)