a n o n i m

Cinta, kuberi nama ia hujan. Untuk titik-titiknya yang datang menghunjam, merajam, dan menajam. Menyentuh dengan caranya yang melingkupi, menyeluruh, dan menggenap. Turun dari langit, bertanggakan udara, meluruh dipeluk gravitasi, lalu berhenti di bumi.

Cinta, kusebut ia hujan. Bukan gerimis yang merintiki malu-malu. Bukan pula badai yang mengamuk bertalu-talu. Tetapi hujan, yang mendesau, mendesir, dan mendebar setiap mendung menjadi kelabu pekat. Yang membuat halilintar meronta dan mengerang, karena sakit yang tak tertahankan. Di sini, di dada. Di mana-mana.... Hujan, yang membuat air mataku serasa meleleh, tak tergenggam...

Cinta. Kuyup. Basah. Dan aku menadah...Menghitung. Nyatanya, aku tak sanggup mereda dalam kenangan akan engkau. Seperti hujan, tercurahkan bersama jenuh yang menggantung di awan.. Begitu saja. Dan di mana pawang?

19 november 2009, 03:18 PM

sepi yang (paling) sepi..

dedaun yang berguguran
reranting yang menggapai
pungguk yang terjaga

rembulan mengutuh
penuh
dan jauh

di manakah rindu kita
telah menjelma?

j a t u h

hatimu seperti puncak-puncak julang
terjal
jejal





aku pendaki Sisifus, jatuh linang
menggenal
pada rindu yang
ajal
.
.
.

buta

kita adalah
cahaya dan bebayang
yang bersua di sebuah siluet

tanya..

Gemerisik dedaunan
menyimpan sebuah tanya..

ke manakah
sang angin berlalu pergi?

Ini, aku.. *

Ini diamku, maukah kau mencabut sepinya?
Ini bibirku, maukah kau melekungkan senyumnya?
Ini ciumanku, maukah kau melumat getirnya sekalian?
Ini lirih tawaku, maukah kau merenyahkan suaranya?
Ini nafasku, maukah kau meniupkan hela udara ke dalamnya?

Ini dadaku, maukah kau tinggal menyempitkan lapangnya?
Ini degup jantungku, maukah kau, membebatnya dengan kecup?
Ini degup yang sebat, kepergianmu membuatnya melambat?
Ini lukaku, maukah kau menggenggam erat pedihnya?
Ini rinduku, maukah kau, menjawab dengan candu?
Ini fanaku, maukah kau, mengekalkannya ke dalam cahaya?

*suatu kolaborasi dengan @RadityaNugie

senja tak selesai*

lalu
buanglah sauhmu
padaku

sebab senja
enggan menunggu

*

 

jingga
di dermaga
jejakmu tak teraga

hanya jelaga
meniti dahaga

sebab senja tak pernah sampai tiga
sebelum gelap menganga

*
sebab aku hanya kabut
dihajar waktu hingga keriput

sebab aku hanya kabut
menunggu angin membawaku ke larut

saat itu
di manakah kamu?

*

sebab aku takluk
di sebelah hatimu aku mengetuk

sebab aku tekuk
menakuk hari hingga lubuk

adakah engkau
tak tergapai seperti pucuk? 

*sebuah kolaborasi dengan Wild06

#maukahkamu..?


Maukah kamu, menyambut jemariku ini? Lantas menggenggamnya erat-erat, seperti sebuah jangkar yang mengikat perahu? Agar kuyakin bersamamu, bukan mimpi belaka.

Maukah kamu, menjadi bongkah-bongkah gula yang meleleh dalam bara yang mengurai? Entah pada kopiku, atau teh, mengisi cangkir tempatku menyeruput rasa.

Maukah kamu, mengurai irama yang berima sebagai tuts piano? Lantas kita nyanyikan serenada tentang hidup, dan chorus-nya adalah sesuatu bahagia yang melonjak-lonjak lincah.

Maukah kamu, menjelma udara tempatku menghela sebuah takdir yang sesungguhnya teramat sederhana: bahwa aku tak akan pernah bisa tanpamu?

Maukah kamu, menjeda bersama tanda baca di alinea tentang kita? Entah itu seru yang teguh! Koma yang menggelitik, titik yang membintik. Atau bahkan tanya ragu? Aku, menunggumu seperti ke-26 aksara menanti untuk menjejak nyata.  

Maukah kamu, menggumpal sebagai warna dalam paletku? merah kuning hijau dan biru, putih hitam bahkan abu-abu? Kita taburkan pelangi ke udara.

Maukah kamu, menggelung mesra seperti setangkup selimut hangat? Lantas kupeluk erat dirimu saat cuaca dingin atau sepi menderit. Lelapku, adalah di dalam dekapmu.

Maukah kamu, bersama mengabadi di dalam album foto? Membingkai seluruh kenangan ke dalam senyum, lalu kita kecoh waktu. Maka malaikat maut hanya bisa mendengus cemburu: ada yang tak terpisahkan oleh ajal.

Lantas, maukah kamu, bila kuberikan padamu perca-perca rindu? Biar kita menambal waktu dengan perban yang tak akan usang dan lekang..

P E L U K

inspired by Peluk, Dee feat Aqi Alexa.
Not as good as Dee's original piece, Peluk (Rectoverso), but enjoy. Bahasa Indonesia. Leave some feedback. ;-)
|Menahun, ku tunggu kata-kata, yang merangkum semuaDan kini ku harap ku dimengerti, walau sekali saja pelukku |

Dini hari. Sudah berapa jam bisu itu menjejak di atmosfer kita? Sudah berapa ratus menit pula kita habiskan hanya saling menatap, lalu berpaling, seolah dengan begitu semuanya akan usai? Tambahkan pula hitungan detik yang terus berdetak, berlari lamat-lamat, seolah ingin mengukir tanda-tanda nelangsa di wajah kita.

Atau, kebisuan ini malah sudah berlangsung selama bertahun-tahun? Di hari ketika kita berhenti saling memahami, dan malah berlari saling menjauh dan bersikap apatis. Atau, justru sejak tak ada aksara apapun yang bisa menggenapkan rasa yang ada di hati? Dan mendadak, cinta menjadi bahasa yang tak lagi kita pahami perbendaharaannya?


|Tiada yang tersembunyi, tak perlu mengingkariRasa sakitmu, rasa sakitku |


Tapi dini hari ini, hanya ada kita. Kita dan kebisuan kita. Yang mengairi relung-relung kita, dan bermuara seperti menjelma dalam secangkir kopi pekat yang pahit untuk sarapan di pagi hari. Yang mencuri pergi gula dan sendok-sendoknya, sehingga manis itu hanya menjadi sesuatu yang pernah ada..

Aku nelangsa, kau tahu itu.
Kau galau, aku tahu itu.
Tapi tak ada jembatan untuk menghubungkan rasa. Dan tahu tidak sama dengan paham.

Dini hari ini, tak perlu lagi bersembunyi dan bermain kucing-kucingan. Aku bukan kucing, kau bukan tikus. Kita lebih baik dari itu. Kau, lebih baik dari itu.

Aku menatapmu. Lekat-lekat. Mencerna lagi semua yang pernah ada. Melihat kembali bagaimana gulungan memori itu berputar - aku mencari-cari lagi rasa itu, berharap barangkali ada sorbitol yang bisa menawar. Lagi-lagi, yang terbayang hanya kopi kental keparat itu.

Aku mendengus.


|Tiada lagi alasan, inilah kejujuranPedih adanya, namun ini jawabnya |

Kau menatapku. Dalam-dalam.
Katanya, mata adalah jendela jiwa. Di dalamnya ada kejujuran yang mengalir, dan tak berhenti sekalipun didera kemarau dan dihadang karang. Seharusnya begitu. Dan itu menakutkan.

Karena di dalam matamu, ada kejujuran itu. Kejujuran yang membuat kita saling menghindar, seperti takut pada sengatan listrik.

Kau sadar. Aku sadar. Pedih itu tak hilang walau kita mencoba untuk lupa. Untuk amnesia. Tapi amnesia hanya ada dalam fiksi picisan - yang tak pernah gagal membuatmu menangis.



|Sadari diriku pun kan sendiri, di dini hari yang sepiTetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata|

Kakiku mengejang. Tanganku membeku.
Aku tak sanggup melangkah.
Aku tak bisa melewati jarak antara kita, yang meski dekat dalam satuan meter, sesungguhnya jauh tak terperi.

Aku menatapmu, lagi dan lagi.
Kau menatapku, lagi dan lagi.

Lidahmu kelu. Bibirmu terkunci rapat oleh waktu.

Aku berpaling, lagi dan lagi.
Kau berpaling, lagi dan lagi.

Kali ini, kau lihat tirai jendela yang menutupi selapis gelap yang pekat di luar.
Dan kudapati tembok yang sama bisunya. Kutinju sekali. Dua kali. Tiga kali. Dinding itu bergeming. Sakit di hati tak jua berkurang..


|Tiada yang terobati di dalam peluk iniTapi rasakan semua, sebelum kau kulepas selamanya

Tak juga kupaksakan setitik pengertian, bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama|

Tidakkah kau lelah?
Memaksakan seulas senyum.
Duduk semeja berdua untuk sarapan pagi yang selalu terasa hambar dan tawar.
Merasa pengap dalam ruangan yang sekarang terasa sumpek dan kecil, hingga ingin selalu berlama-lama di tepi langitmu yang selalu menunggumu membentanginya.

Tidakkah kau ingin bebas?
Sayapmu telah lama terkungkung. Rasanya pasti sakit.

Aku mengerti. Aku mengerti apa yang harus kulakukan.
Dan kulihat riak di wajahmu juga berubah, tatkala menatapku yang sedang memandangimu.

Aku tahu, kau juga telah mengerti.
Kuseret kakiku. Mendekatimu. Kini tak perlu lagi berpaling.

Kujulurkan tanganku. Menggapaimu. Merengkuhmu.
Kau membalasnya. Mendekapku erat-erat.
Kejujuran itu menemukan muaranya sudah. Kau tersedu. Air matamu menetes satu-satu, membasahi piyamaku.

Rasanya masih sakit..

Berhenti mencari aksara dan kata. Karena dalam kata selalu ada dusta. Dan kita tak lagi butuh alasan. Kita tak butuh rangkuman.




Lepaskanku segenap jiwamu, tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang kusayang, dan tak layak kau didera
Dan kini ku berharap ku dimengerti, walau sekali saja pelukku



suatu sore, ketika hujan merintik dan lagu Peluk berputar diulang-ulang secara keji di mp3 player

aku (memang) menunggumu

:::@rahneputri
:::@mbakdan

aku menunggumu, di ujung yang bernama kelak. datanglah, temui aku dengan tawa yang gelak, seperti awan yang berarak dan arus yang menggerak.

aku menunggumu kembali, untuk sekadar menuntas perasaan yang mati lali. menampali dengan rindu yang memerca. dan di sana, kita bertukar kenangan seperti hujan dan matahari yang berbagi pelangi.

aku menunggumu, berlabuh seperti mimpi yang usai di pangkal pagi, yang telah lama kita ketahui. seperti janji matahari yang menyepakat, yang lalu jatuh ke bola matamu, yang mesra berbisik sesuatu rahasia.

aku menunggumu, seniscaya satu tambah satu sama dengan dua. lalu di ruah waktu yang tumpah seperti pasir tak tergenggam, kita bersua. mungkin merayakan pertemuan yang tak lagi dibayangi perpisahan.

aku menunggumu, seperti mendung bersiap menggerimis. seperti bumi yang merindu cerap basah yang kuyup. seperti laut yang menanti rinainya kembali bermuara.

aku menunggumu, sebagaimana suara yang meluncur dari bibirmu, menantikan gemanya berpulang. menimpali kata dengan ekor bunyi, seperti kerdam yang menggaung meredam rindudendam.

aku menunggumu, seperti merah menjanjikan senja sebuah lembayung. seperti pagi yang tak jera menghalau malam: pasti, selalu, dan barangkali, selamanya.

aku, memang menunggumu.
Untuk sebuah Mengapa yang tak pernah butuh Karena. Untuk seluruh yang mengutuh di dalam genggaman tanganmu.

Warna

:::@mbakdan


Kuingin membiru, seperti sekaki payung yang engkau pegang ketika hujan merinai, dan matahari menjadi terlalu mahal untuk kau tebus. Genggam erat diriku, akan kuhalau badai yang menderai.

Kuingin menguning, lantas mekar menyadur cinta yang sebagai menghelai tersembunyi di tiap kelopak krisan. Menghias pelataranmu penuh seluruh. Datanglah, dengan rindu yang kupu.

Kuingin memerah, selayak gincu yang memoles ranum bibirmu, melekat selamanya sebagai nama yang senantiasa kau eja: entah itu lirih malu-malu atau lantang bertalu-talu.

Kuingin menjingga, maka kuaskan aku untuk menatah makna langit senjamu: fana memburat di kanvasmu, namun tetap abadi dalam niscaya.  

Kuingin mengabu, menawar kelam hitam dan tatih putih, seperti kopi yang bertemu susu saban pagi. Lantas kau reguk, teguk, hingga aku pun takluk.

Kuingin menghijau, seperti segar daun teh yang memucuk untuk kau petik, kau jentik. Menunggumu membubuh bongkah gula, hingga manis takdirku..

Kuingin memutih, seperti helai kertas yang mencarik, menunggu kau tulis. Kau bingkai ke dalam uban yang saksi. Menjelma kelak yang penuh gelak.

Dan kuingin merona, seperti gelepar ikan yang dikembalikan ke laut, yang lalu hidup penuh sahaja. Engkau, lautku..

Sang Sepasang

Kita: Gerimis dan Payung,
yang dipertemukan
oleh hujan..

*judul diinspirasi oleh blog ini

#AkuHanyaIngin

Aku hanya ingin, 
menjadi almanak
tempatmu menghitung hari. 


Aku hanya ingin,
memfosilkan bahagia
ke dalam binar di matamu. 

Genap dan Ganjil

Cinta itu, seperti bilangan ganjil.
Ketika dibagi kita berDUA,
selalu menyisa satu:
entah itu rindu, bahagia, kenangan,
atau bahkan rasa sakit..

Deja Vu

Barangkali itu kamu, secabik masa lalu yang menjelma ketika kopiku kelebihan susu. Lalu kamu tertawa samar, mengejek Latte yang tak jadi. Tidakkah kamu seperti itu: gurih kenangan yang menyaru susu, lalu menyisa pahit yang serupa kopi?


Barangkali itu kamu, ketika aku sontak menoleh ke kursimu yang kosong, dengan cangkir kopi Winnie the Pooh milikmu yang sama melompongnya. Seperti seraut bayangan yang tiada, tetapi entah mengapa selalu terlihat berkelebat di sudut mataku. Membuatku ingin menoleh, lagi dan lagi, untuk kemudian mendapati sekerat masa lalu dan wajah-wajah familiar yang seperti memantul dari rumah kaca.


Barangkali itu kamu, sebaris nama yang lantas kueja, tanpa perlu kutahu artinya. Kugantungkan setanda tanya di ujung suara, meragu pada sedekap harap yang kupeluk, tanpa kupaham kapan ia akan kembali meranum matang.


Barangkali itu kamu, pintu yang tak pernah bisa kubuka kembali, ketika aku merogoh saku untuk mencari kunci pintu apartemenku. Dan ketika kudengar suara ketukan di depan pintu, ah, betapa aku berharap itu adalah kamu.


Barangkali, itu kamu. Wajah-wajah yang menatapku kala aku menapak di trotoar untuk berangkat kerja. Refleksimu yang menjelma rindu yang membuntu bisu. Kamu tahu, detik ini juga aku ingin menggenggam tanganmu seperti yang biasa kulakukan saat kita berjalan beriringan menuju kantor. Tapi yang ada hanya kesunyian yang teramat panjang.


Dan barangkali itu kamu, déjà vu yang menjeratku untuk terus lupa: bahwa kamu hanya masa silam. Dan.. barangkali itu juga aku, yang memilih lupa dan tersesat di labirin masa. Terasing dan terpasung seperti pasien sakit jiwa di dalam straitjacket..

Wanita itu Berbisik

Wanita itu berbisik dan menarikku ke belakang. Ada pekak masa lalu yang bercampur dengan desing masa depan yang bergerak melalui roda kereta api yang terus berputar cepat. Aku berbalik, mendapatinya mencoba mengulas senyum. Senyum yang canggung tetapi membuat sesuatu di hati meluruh.


Sejenak, aku ingin memeluknya, dan kurasa dia pun begitu. Tetapi akhirnya tanganku hanya mengejang di tempatnya, sekaku air mata beku yang lama sudah mengering di pelupuk. Kuulas sebuah senyum, sambil menganggukkan kepala padanya. Sedang kerumunan kian riuh sesak seperti merampas oksigen, dan aku sungguhan tak tahu, mana yang lebih berat: kedua koper di lengan atau kenangan yang kusandang di bahu.


Ketika adzan mulai terdengar, kuperhatikan lampu-lampu mulai dinyalakan. Di bawah sorot cahaya yang melemah, kulihat wajahnya yang lusuh dan lelah. Kusam dimakan usia, menyisakan artefak yang secarut keriput dan sekelabu uban-uban di kepalanya. Sesuatu itu kembali hilang dari ulu hatiku..


Aku membopongnya duduk di bangku-bangku yang tersedia di peron. Dia masih terus membisikkan masa lalunya ke telingaku; salah satu tangannya menggamit lengan bajuku. Betapa dia pernah punya seorang suami yang mencintainya, seorang anak lelaki yang paling lucu di dunia, dan sebuah rumah mungil yang bermandikan cinta. Lalu, di satu hari yang naas, perang revolusi merampas segalanya. Suaminya ditembak tentara pemberontak ketika berangkat ke ladang. Mayatnya tak pernah ditemukan.


Ia tetap menjanda, sembari bekerja ke sana kemari, menghidupi anak semata wayangnya. Dan di peron yang sama ini, ia pernah mengantarkan anak lelakinya itu pergi merantau, mencecap ilmu. Wanita itu, renta dalam kesendirian, membayar kepergian anaknya dengan doa-doa setiap malam, setampuk rindu yang membuntu, dan secangkir gelisah setiap pagi. Kudengar dari petugas stasiun, wanita itu setiap hari selalu ke peron, menantikan anaknya pulang…

Dan di matanya kulihat diriku. Bertahun-tahun bergulat dengan waktu, semata untuk menapakkan kedua kaki ke bumi fana, sebelum menemukan diri yang lama sudah tersesat di belantara hidup....


“Engkau mirip anakku..,” Ia berkata. Jelas. Tegas. Dan membuat hatiku mencelos. Aku tersenyum padanya, mengusap lengannya.


“Aku rindu padanya. Aku ingin mendengarnya memanggilku Ibu lagi. Seperti malam-malam ketika petir bergemuruh dan dia ketakutan.” Ada senyum yang tulus dari bibirnya. “Aku memimpikannya semalam. Ia berkata akan pulang. Sudahkah kamu melihatnya hari ini?”


Aksara dan kata kembali melayang dari mulutku. Kelu. Bisu. Berganti panggilan terakhir yang menggema di seluruh stasiun. Kereta api ke Jakarta akan berangkat.


“Mari, Bu…,” Aku menggamit lengannya. “Kita pergi.”
“Tapi aku ingin tetap di sini, menunggu anakku…” Ia menatap dengan matanya yang polos membulat....

Aku terdiam.
Ada sesak yang menyeruak, seolah menimpali pikuk yang memekik, dan aroma perpisahan yang menggantung di udara. 
Menghempas seluruh dayaku hingga retak. Pecah. Berkeping-keping. Berserakan..

Bu, ini aku. Anakmu……

The Question Marks

 Why didn't you just freeze me to ice? Then shattered me into pieces?
Why didn't you burn me to ashes? Then scattered me all over the sky, the sea, and the wind? Then I'd be over you. Somewhere somehow.
Why didn't you melt me to water? Then I'd be the wave, the rain, the dew..anything but loving you.

Why didn't you cut me open? Then you'd see the flesh, the wound, and perhaps the truth. That since the beginning, it had been you.
Why didn't you drown me drunk? Perhaps then we'd forget a little while about me and this obnoxiously absurd us?
Why didn't you take the lights away? Then the dark would let me see the true me: a blind pathetic who didn't learn his lesson well.

Just, why?

Negeri Hujan: Petrichor dan Geosmin (part 3)

@eswlie untuk @writingsession
Untuk informasi lanjut, kunjungi writingsession.tumblr.com


Penguasa itu bersuara lagi, “Namaku Sisyphus. Karena satu kesalahan fatal yang kulakukan, aku terpisahkan dari kekasihku Andromeda. Kini ia telah menjadi bintang di langit sana. Sedangkan aku dikutuk menjadi penghuni lautan. Aku telah mencoba menguapkan seluruh tubuhku melalui proses yang menyakitkan, mengubahnya menjadi titik hujan di langit, namun tetap saja aku tak bisa menyematkan rinduku untuk Andromeda. Aku selalu terhempas ke tanah, pecah berkeping-keping, dan tak ada yang bisa kulakukan selain mengalir kembali ke laut dan mengulangi proses yang sama lagi dan lagi.”

Petrichor mengerti kini. Jadi inilah sebab mengapa hujan turun tanpa henti di Negeri Hujan. Ada seorang pencinta yang mencoba menceritakan rindunya yang berusia berabad-abad untuk sebuah bintang di langit sana. Kekasihnya yang bukan hanya jauh, tetapi juga tak tergenggam...

“Aku punya ide, Yang Mulia Sisyphus.” Maka Petrichor mulai membekukan rinai-rinai hujan, menganyamnya menjadi jarum-jarum perak. Dengan jarum-jarum itu ia kemudian menjahit rinai-rinai hujan di udara dan menganyamnya menjadi sebuah tangga. Semakin lama tangga itu semakin tinggi, membawa serta Petrichor ke langit.

Di langit tertinggi, ia membekukan lagi rinai-rinai yang tersisa, mengumpulkannya dan menjahitkannya menjadi gumpalan-gumpalan yang semakin lama semakin menyerupai kapas. Setelah cukup lebar, ia mendaratkan diri ke atas gumpalan kapas itu, dan lalu membuat gumpalan kapas yang lain. Ia meloncat dari satu gumpalan dari gumpalan yang lain, dan setiap ia mendarat, terdengarlah gemuruh yang bercahaya. Cahayanya begitu menyilaukan sehingga membangunkan bintang-bintang yang terlelap di siang hari.

Petrichor kemudian membekukan lagi rinai-rinai hujan, menjadikannya kristal-kristal indah dan menempatkannya di atas gumpalan kapas itu. Kristal itulah yang kemudian memantulkan cahaya bintang di langit. Dan melalui jejak cahaya itu, Sisyphus akhirnya menyematkan rindunya di langit.

*
Hujan mulai mereda ketika Petrichor turun ke bumi melalui tangga hujan.
Sisyphus berterima kasih padanya, dan ketika hujan berhenti, ia menghadiahkan tetes hujan terakhir kepada Petrichor. Petrichor membekukan titik air itu, dan terbentuklah kristal besar yang memancarkan 7 cahaya.

“Anak muda, itulah Keping Kristal Hujan Terakhir yang kau cari. Pakailah untuk mengobati kekasihmu. Semoga kalian berbahagia.”

Petrichor berpamitan pada Sisyphus, dan dengan gumpalan kapas yang ia jahit di langit, ia melesat menuju Geosmin.

*
Tabib Tellus dan segenap penduduk Negeri Hujan menyambut Petrichor dengan gegap gempita. Hujan telah berhenti turun, dan untuk pertama kalinya, semua orang melihat matahari. Kali ini, langit dipenuhi gumpalan kapas putih yang di kemudian hari disebut sebagai awan.

“Telanlah Keping Kristal itu, Petrichor.”

Petrichor menelan kepingan itu, dan dari kedua matanya, mengalirlah air. Tabib Tellus, yang menamakan air itu sebagai air mata, menampungnya dan menggunakannya untuk mengobati Geosmin.

Selang beberapa saat, Geosmin membuka matanya, dan mendapati Petrichor. Ia mengucapkan cintanya pada Petrichor, dan lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Semua telah terlambat. Petrichor terus menerus mengeluarkan air mata, menyalurkan kesedihan yang menghimpit dadanya. Itulah yang kemudian dikenal sebagai menangis.

*
Sudah seminggu lamanya Petrichor menunggui makam Geosmin. Rasa sedihnya sudah berkurang, digantikan perasaan hampa yang mengosongkan hatinya.

Sisyphus melalui awannya mendapati pemuda itu bersedih. Ia menghampiri pemuda itu, dan menawarkan suatu bantuan.

“Kau bisa bersama dengannya, tetapi kau harus bersedia berkorban.”

Petrichor setuju, dan oleh Sisyphus, ia dan Geosmin diubah menjadi Senyawa Hujan. Hujan kembali turun dari awan Sisyphus, namun kali ini rinainya berwarna kelabu. Kedua senyawa hujan hanya bersatu ketika hujan turun.  Itulah yang kita kenal sebagai bau khas tanah basah setiap hujan mengguyur. Dan cinta mereka berdua, karena Keping Kristal Hujan Terakhir yang mereka telan, berubah menjadi bianglala yang menghiasi langit selepas hujan. 

Sejak itu pula, hujan selalu menghadirkan rindu kepada para perindu yang memikirkan kekasihnya... *END

Negeri Hujan: Petrichor dan Geosmin (part 2)

@eswlie untuk @writingsession
Untuk informasi lanjut, kunjungi writingsession.tumblr.com



Perjalanan ke Samudera Tantalus tidaklah sulit. Petrichor pergi ke sungai di dekat rumahnya, menyewa sebuah perahu kecil, dan mulai mengayuh. Semua sungai bermuara ke laut, bukan?

Petrichor belum menempuh seperempat perjalanan ketika di hadapannya muncul para Naiads, roh-roh suci penghuni sungai yang berwujud seperti peri-peri cantik bercahaya putih. Mereka menguji cinta Petrichor pada Geosmin dengan meniru penampilan gadis itu. Petrichor hampir terkecoh, ketika sebutir air hujan yang menetes di genggamannya berubah putih. Di dekat Naiads, titik hujan yang biru memang menjadi putih. Tersadar, ia segera menampik para Naiads, dan lalu, meminta pertolongan mereka.

“Mengapa kami harus membantumu?” Seorang Naiads bertanya.

“Aku akan membuatkan kristal air untuk kalian..” Ia membuka telapaknya dan mulai menambang rinai hujan. Titik-titik air itu membeku dan ia pun mulai mengukir kristal-kristal air yang berwarna biru. Para Naiads terpesona, selain memang bentuknya indah sekali, juga karena kristal air itu tak berubah menjadi kristal putih yang membosankan. Mereka merangkai kristal itu menjadi kalung, dan begitu mengenakannya, mereka berubah menjadi roh-roh bercahaya biru. Dan, hujan tak lagi menyentuh mereka, kristal air hujan itu seperti jubah hujan tak terlihat yang melindungi mereka.

Para Naiads bersuka cita; dan dengan kekuatan mereka, sampailah perahu Petrichor ke Samudera Tantalus. Di sini mereka mengucapkan selamat tinggal, karena mereka tidak tahan terhadap lingkungan air asin. Petrichor berterima kasih dan melanjutkan perjalanannya.

*

Petrichor melabuhkan perahunya ke pantai terdekat.
Ia belum pernah melihat laut sebelumnya, sehingga Tantalus demikian memesonakannya. Untuk sesaat, ia tak tahu harus bagaimana. Lalu ia mulai berjalan ke arah laut lepas dan melepaskan jas hujannya.

Seketika itu, rintik hujan yang menajam dan menghujam membuatnya jatuh terduduk. Ada rasa sakit yang membuat hatinya seperti karam. Ada rasa sedih yang tak ia kenal, yang memenuhi rongga dadanya. Tapi ia tetap bangkit, berjalan dan berjalan hingga ke tengah laut.

Mula-mula, tak ada yang terjadi. Lalu matanya mulai melihat bagaimana titik-titik laut menguap, hingga jauh ke atas langit. Ya, inilah asal semua hujan di Negeri Hujan. Di hadapannya kemudian titik-titik air mulai berkumpul dan membentuk wujud seorang manusia raksasa.

“Hai manusia, apa yang kau lakukan di sini?”

Petrichor terperangah menatap sosok itu. “Salam, penguasa lautan. Namaku Petrichor. Aku mencari Keping Kristal Hujan Terakhir.”

Sosok itu mendengus. “Aku benci kalian manusia. Menambang rinai-rinai menjadi jarum perak dan kristal seolah itu milik kalian! Tidak! Kau tak akan mendapatkan apa-apa dariku!”

Ombak yang menggelegar segera menghantam Petrichor. Ia terbenam, dan dengan sisa tenaganya ia berenang ke permukaan.

“Penguasa, aku akan menukarkannya dengan sesuatu! Kumohon padamu, kekasihku Geosmin tengah sakit. Dan obatnya hanya Keping Kristal Hujan Terakhir!”

Di luar dugaan, ombak mereda. “Ah, sepasang kekasih yang akan segera berpisah..”

“Tak akan kubiarkan!” teriak Petrichor, “Aku tak akan membiarkan Geosmin meninggalkanku selagi aku hidup!”

“Baiklah, anak muda! Aku akan memberikan padamu Keping Kristal Hujan Terakhir, asalkan engkau membantuku.”

Petrichor mengangguk mantap.



Negeri Hujan: Petrichor dan Geosmin (part 1)

@eswlie untuk @writingsession
Untuk informasi lanjut, kunjungi writingsession.tumblr.com


Tahukah kamu, dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi?

Di negeri itu, hujan selalu turun. Setiap detik setiap hari. Langit selalu mendung; mendung yang berwarna biru indigo pekat, menggelayut menutupi segalanya yang seharusnya terlihat dari tempat itu. Hujan yang turun mengguyur bumi berwarna biru, sebiru lautan, dan tidak berasal dari awan, karena di tempat itu, di kala itu, belum ada yang dinamai awan, melainkan jatuh begitu saja, seperti bah yang tercurah dari atap yang bocor.

Banyak yang memilih untuk mengangkat kaki dari tempat itu, tetapi pada akhirnya mereka selalu kembali, beranak-pinak di tempat itu, beranjak tua, dan mati. Seperti ditarik oleh kekuatan misterius yang membuat mereka terus ingin kembali. Atau barangkali evolusi telah membuat mereka menjadi makhluk-makhluk yang mencintai hujan sedemikian rupa, dan perpisahan dengan hujan menjelma sesuatu yang menyakitkan.

Tak terkecuali Petrichor. Pemuda ini berasal dari keluarga sederhana yang menjual payung dan jas hujan beraneka rupa. Mulai dari payung-payung yang melayang sendiri sehingga Engkau tak perlu capek-capek menggenggamnya, sampai jas hujan transparan, yang tak akan menutupi busana super indah yang kau kenakan di baliknya. Usaha ini telah dimulai sejak 7 turunan yang lalu; dan meskipun tak sekaya rinai hujan, mereka bahagia.

Tahun ini, Petrichor berusia genap 20 tahun. Matanya sebiru langit di atas sana dan seteduh payung-payung yang dijualnya. Dan pagi itu, sepasang mata indahnya begitu sarat menyiratkan kesedihan. Berkali-kali sudah ia melongok ke luar jendela, seolah berharap ada sesuatu yang akan berubah. Tetapi langit masih tetap membiru beku, dan hujan masih tetap turun menganyam.

Ia menghela napas. Kekasih hatinya, Geosmin, sedang jatuh sakit. Menurut tabib Tellus, satu-satunya obat hanyalah sesuatu yang disebut Keping Kristal Hujan Terakhir. Tetapi senyawa itu, sepanjang sejarah Negeri Hujan, belum pernah ditemukan. Bahkan beberapa cerdik-cendekia menganggap Keping Kristal Hujan Terakhir hanyalah legenda dan mitos yang dibuat para nenek moyang.

Di negeri itu, rinai hujan memang bisa ditambang, diambil kristal-kristalnya setelah dibekukan, atau sekadar dijadikan jarum-jarum perak. Kristal-kristal hujan beraneka rupa, dan bisa dijadikan apa saja. Berlian, kalung mutiara, lampu hias, atau manik-manik. Harganya tergantung rupa struktur kristalnya: semakin kompleks dan langka, semakin mahal pula nilainya. Sedang jarum-jarum perak hujan bisa digunakan untuk menjahit luka. Kaca-kaca yang pecah. Air yang membeku. Penangkal petir. Tinggal pilih.

Maka Petrichor membekukan semua rinai hujan yang mendarat di genggamannya. Membuatkan kristal-kristal indah dan Tabib Tellus mencobakannya pada Geosmin. Tapi sepasang mata indah tetap tertutup rapat. Petrichor hampir putus asa, ketika akhirnya Tabib Tellus, yang bersimpati pada mereka, memberikan petunjuk, “Pergilah ke tempat hujan berasal. Ke Samudera Tantalus. Aku tak menjamin keberhasilanmu, tapi barangkali itulah harapan satu-satunya. Jawaban mengenai apa sebenarnya Keping Kristal Hujan Terakhir.”

Petrichor gelisah. Ranselnya sudah disiapkan sejak kemarin malam.  Ia sudah memutuskan, apapun yang terjadi ia harus menyembuhkan Geosmin. Maka ia pun berangkat, tanpa menoleh lagi.. 

rumah

rumah itu, kita.
sepasang hati di depan perapian,
membebat rindu dan mengerat rasa,
tanpa bertukar kata.

999

sebelum fajar terlanjur menyingsing,
tunggu aku dengan 999 stupa.
Jadikan cinta sebagai patung terakhir,
untumu. untuk kita...

rindu, itu mimpi.

Mimpi.
mendekap rindu hingga lelap.
meningkap di koridor harap,
untuk menemu dirimu lagi.


Rindu. 
mengenang mimpi yang pernah
menggenangi ceruk matamu. 
mencintaimu adalah 
sesuatu yang tiada lekang.. 

serendipity

if right now,
we're taking the different transjakarta,
from different places around jakarta,
and then aimlessly wandering the city,
would we meet somehow?

surat

Ia mengirimkan surat untuk masa lalu.
Esoknya, ia lupa
menyertakan kata
ke dalamnya.

#rindu

rindu ini, serupa warna pekat malam yang menggantung di langit.
Tak tergenggam, tak teraba, tak tertuju.
Tak bertepi, tak berima, tak berkesudahan.
Sedang kata-kata kehilangan perbendaharaan yang diartikan sebagai 'kita': kau dan aku. Sedang aku masih berlomba menatah satu-satu apa yang disebutnya sebagai setia, sebelum pagi menjelang dan menghentikan segala mimpi.


rindu itu, rinai hujan yang tak menemukan muaranya.
Dan dahaga bersisa jelaga, bertumpuk-tumpuk mengisi gelas-gelas kosong di pelataran rumah. Kureguk ia bersama harap dan do'a yang kulafal berkali-kali. Menjelma baris-baris anonim, sedang titik koma dan spasi entah berada di mana.


rinduitu,senduyangkucanduhinggabaranyahabisdansakaumenjadikansegalanyatakmasukakal,
sepertikalimatyangkehilanganspasi.

Tiada

lelah.
belah.
begah.
Ia mencacahku hingga pecah.
lihat, apa yang sisa.

#sihirhujan

selected tweets in reply to @sihirhujan and @rahneputri

#Hujan adalah Sisyphus yang pecah menghantam bumi. Rapuh dan tak berdaya meniti rindu yang ingin ia sematkan untuk langit.

#Patahkan rindumu dan tikam aku dengannya. Barangkali darahku bisa kau pakai membasuh lubang di hatimu.

#Jejakmu merekah di daun yang basah. Menjala kenangan tentang irama yang tak berima.

#Langit dianyam hujan. Atapnya yang bolong mencurahkan bah. Barangkali itu yang hilang dari ceruk matamu.

#Jadikan aku artefak rindu dalam labirin langit. Melarung lara bersama mendung dan merinai cinta bersama hujan.

#Sihir aku menjadi hujan yang berwarna. Maka aku tak perlu matahari untuk mengabarkan indah pelangi kepadanya.

Sang Penjaja

Kujual Setiaku pada Nafsu.
Dan di puncaknya aku membeli Gelap yang paling gulita.
Lalu, masihkah engkau berkeingingan
mengenggam Dosa di jemariku ini?

berlubang

adakah
sebongkah rindu
terlalu sarat untuk kau kerat?


*pertama kali di-poskan sebagai komentar untuk si pelukissunyi

The Letters I Didn't Send


I wrote the letters for you. I kept the words for me.

I composed the poems for you.
I burnt all the sentences for me.

Eventually, nothing was left behind but the memories.

Sketsa(*)

Gadis kecil yang menengadah itu, tidak sedang menunggu hari mendung atau matahari yang muncul saban jam 4 pagi. Gadis kecil itu, menatap langit semata-mata demi rindunya pada langit yang terlalu luas, hingga ia tak tahu, di mana awan yang ia cari.



Gadis kecil itu masih mengutuk matahari yang terlalu cepat mengkhianati, sedang ia tak pernah ingin bangun dari mimpi. tentang langit yang terlalu luas dan awan yang ia harapkan menaungi. Gadis kecil itu ingin sekali menangis, karena tau awannya tak akan pernah kembali dan ia hanya akan terus sendiri.



Karena itulah aku memanggilnya Chawpi Tuta. Bukan seperti yang diberikan Paulo kepada Gio, ketika lelaki itu duduk diam memandangi kabut malam menciumi wajah sungai (**). Tetapi semata karena kabut di tengah malam, merepresentasikan hal-hal yang begitu dicintainya.


Kadang, ia bertanya-tanya, apakah awan yang mengembara jauh itu, telah kembali untuknya sebagai kabut? Meski hanya dalam mimpi, karena setelah lewat jam 12 malam pun, cinderella harus mengepak sepatu kacanya untuk kembali ke alam nyata...





(*)kolaborasi dengan YD
(**)quoted from Supernova: Akar, Dee

delusi

di bibir pantaimu
rinduku memecah berderai.

di tepi jurangmu
hidup menjadi altophobia.

rahasia hujan

kutenggelamkan kata ke samudera.
lepas. bebas. 
berharap ia kembali sebagai hujan yang membasahi hatimu,
mengetuki jendelamu,
dengan iramanya yang datar sama: rindu.

sang pemabuk

di dalam relung rindu,
kumuntahkan segenap sakau.
Hingga habis parau melangutkan
rasa dan lara.

menjelang keabadian

abadi itu, sepi yang tak sunyi,
merangkum aksara ke dalam selaksa.
melebur di dalam waktu,
hingga detik berhenti engkau hitung.

gempa

rindu itu ada,
meski ia gagu membisu.
bergelantungan di langit-langit hati
sebelum tercurah jatuh.
Lalu hatiku gempa, sekali lagi.

orgasme

di bibir lidahmu kudengar jantungku mendebur.
di ujung jemarimu, ada ngilu yang kucandu.


dan di puncak nafsu, kujual segalaku,
untuk menghentikan waktu.
Lalu gelap menjelma abadi.

sang penggembala

kuserahkan padamu pagi yang dibasuh embun sebanyak 'kelak'.
sebanyak itulah aku telah menggiring malam untukmu menuai sebuah awal.

blame it on the weatherman

salahkan aksara.
tak mampu mengurai gelora.

salahkan kata.
tak mampu menjelma nyata.